Pengertian Ihsan


Pengertian Ihsan




Ihsan


Kata ihsan berasal dari bahasa Arab, yaitu ahsana, yahsinu, ihasanan, yang artinya berbuat baik atau berbuat kebaikan. Kata ihsan dalam al-Qur’an diulang sebanyak 12 kali, dengan arti yang beraneka ragam. Di antaranya ada yang berarti berbuat baik atau kebaikan. (QS. Al-Baqarah, 2 : 178). Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan. (Q.S. An-Nahl, 16 : 90). Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu) : Janganlah kamu menyembah Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak. Q.S. al-Baqarah, 2 :83).

Pada ayat-ayat tersebut kata ihsan selalu diartikan berbuat baik, dan dihubungkan dengan berbagai masalah sosial, yaitu berbuat baik dalam bentuk mau memaafkan kesalahan orang lain, dalam memimpin masyarakat atau memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan dalam hubungannya dengan kedua orang tua. Dengan demikian kata ihsan lebih menunjukkan pada akhlak yang mulia. Sedangkan arti ihsan sebagaimana digunakan dalam arti istilah adalah merasa diperhatikan oleh Allah, sehingga ia tidak berani melakukan pelanggaran atau meninggalkan perintah Tuhan.

3. Aliran Teologi dalam Islam

Teologi Islam atau ilmu kalam sebagai disiplin ilmu pengetahuan, baru muncul sekitar abad ke-3 Hijrah. Hal ini sama sekali bukan berarti aspek akidah atau teologi tidak mendapat perhatian dalam ajaran Islam atau ilmu-ilmu keIslaman, bahkan sebaliknya dalam agama Islam aspek akidah merupakan inti ajarannya.

Pada waktu itu umat Islam masih bersatu dalam segala persolan pokok akidah, bersatu dalam memahaminya. Umat Islam waktu itu tidak pernah berkeinginan untuk mengungkit persoalan akidah yang telah tertanam dan berakar kuat dihati umat Islam.

Umat Islam terus mengisi ruang sejarah yang terus berjalan hingga sejarah itu sendiri melahirkan beberapa persoalan yang muncul kemudian yang harus dihadapi umat Islam, termasuk dengan munculnya persoalan-persoalan dalam masalah teologi.

a. Masalah Status dan Nasib Pelaku Dosa Besar

Ketika Nabi Muhammad saw, masih hidup, semua persoalan agama dapat ditanyakan kepada beliau secara langsung. Dan jawaban dari persoalan tersebut dapat diperoleh secara langsung dari Rasulullah saw. Para sahabat dan kaum muslimin percaya dengan sepenuh hati, bahwa apa yang diterima dan disampaikan oleh Nabi adalah berdasarskan wahyu Allah. Dengan demikian, tak ada keraguan sedikitpun mengenai kebenarannya. Dalam masalah akidah atau teologi, umat Islam pada masa Nabi saw, tidak terjadi perpecahan atau pengelompokan. Mereka semua bersatu dalam masalah akidah sampai pada masa dua kepemimpinan khulafaur zrasyidin, yakni pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakur As-Siddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. Karena pada masa setelahnya umat Islam telah terusik nafsunya untuk mengambil pemahaman secara sepihak menurut versi kelompoknya dalam masalah agama termasuk persoalan akidah atau teologi yang dalam agama Islam merupakan ajaran yang pokok.

Persoalan teologi dalam umat Islam memang bukan merupakan persoalan yang muncul sebagai persolan teologis. Namun persoalan-pesoalan teologi dalam umat Islam muncul dikarenakan isu persoalan politik yang melahirkan persistiwa pembunuhan Usman bin Affan sebagai khalifah umat Islam yang sah pada watu itu. Dan dalam peristiwa pembunuhan tersebut yang terlibat langsung adalah umat Islam. Ternyata, persoalan pertama yang muncul dalam Islam justru persoalan politik yang kemudian disusul persoalan teologi. Ketika Nabi saw. Wafat, yang terpikir didalam kalangan umat (para sahabat) adalah siapa pengganti Rasulullah saw.? Dan berlanjut sampai khalifah Usman yang terbunuh merupakan titik awal lahirnya permasalahan teologi yang dipertentangkan. Dari peristiwa pembunuhan Usman yang menjadi permaslahan adalah dosa apa yang telah diperbuat olehnya, dan bagaimana dosanya bagi orang-orang yang membunuh beliau? Peristiwa pembunuhan itu sebenarnya merupakan peristiwa politik, yakni sebagai tanggapan terhadap kebijaksanaan pemerintahan yang dijalankan pada waktu itu.

Pembicaraan masalah dosa tersebut semakin meningkat ketika terjadi perebutan kekuasaan antara Ali dan Muawiyah dengan keputusan akhir adanya arbitrase (tahkim) Kelompok yang tidak setuju adanya arbitrase, menganggap bahwa orang terlibat dalam persolan arbitrase, seperti Ali bin Ali Thalib, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa al Asy’ary dan lain-lain, dianggap kafir, karena telah mengambil hukum yang tidak berdasarkan Al-Qur’an. Karena Allah berfirman didalam Al- Qur’an surat Al-Maidah ayat 44.


Sumber :

  1. https://www.dosenpendidikan.co.id
  2. https://www.anythingbutipod.com/
  3. https://vidmate.co.id/
  4. https://uptodown.co.id/
  5. https://downloadapk.co.id/
  6. https://daftarpaket.co.id/
  7. https://lahan.co.id/ 
  8. Cara Menanam Buah Naga
  9. cara download video youtube di hp
  10. https://www.gurupendidikan.co.id/teks-proklamasi/
  11. https://pendidikan.co.id/teks-prosedur/
  12. https://www.dosenpendidikan.co.id/gelar-akademik/
  13. https://www.dosenpendidikan.co.id/3-arti-tut-wuri-handayani-menurut-ahlinya/
  14. https://how.co.id/download-video-youtube/ 
  15. https://merkterbaik.com/merk-jam-tangan-wanita-branded/ 
  16. https://merekbagus.co.id/sabun-muka/
  17. https://merekbagus.co.id/parfum-wanita/
  18. https://merekbagus.co.id/vitamin-ibu-hamil/
  19. https://merekbagus.co.id/parfum-pria/
  20. https://www.dosenpendidikan.co.id/sel-hewan/